Hatiku bengkak, lukanya masih basah dan biru bekas lalu. Belumlah sembuh. Jika hidupku adalah sebuah permainan Zombie, mungkin darah berserakan beserta daging dan kulitnya. Tapi nyatanya, luka ini tak pernah menguarkan setetespun darah. Meski, sakit yang terasa seperti kehilangan udara yang selama ini mengalir.
Bicara selalu lebih mudah daripada bertindak.
Harusnya aku berkaca. Bagaimana bisa aku memberikan saran pada sejawat sedang aku sendiri acap kali kebingungan dengan peranku? Harusnya aku malu saat mengalirkan ribuan kata bijak, saat aku jatuh pun aku tak ingat satupun kalimat itu. Persetan.
Mataku rasanya sudah lelah. Mendung, selalu menjadi hujan dalam hidupku. Mereka bilang aku terlalu perasa. Pernahkah mereka terka rasa apa yang sedang kukecap?
Bicara selalu lebih mudah daripada bertindak.
Sesal tiada lalu bisa ku putar kembali. Rasanya lelah pun sudah tidak bisa kukeluhkan. Kukepal tanganku, mencoba menenangkan hatiku yang meronta, mencaci, menjambak. Ha. Setidaknya puas sudah kulampiaskan. Tapi... Kenapa rasanya masih hampa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar