Minggu, 21 Maret 2021

Falling

02.26

Lelahku tak terperi. Tapi sedetikpun tak terpejam. Adrenalinku berpacu. Saling berkhianat antara kantuk dan fokus. Sepertinya sudah tidak ada kaitan antara pikiran dan ragaku. Kecapku pun tlah lain rasa. Sial. 

Akhir-akhir ini aku terlalu banyak sambat. Rasanya sumpah serapah semudah itu berselancar di keseharianku. Entah. Rasanya selalu ingin memaki. Hahaha. 

02.30

Kantukku mengamuk. Fokusku melemah. Ingin rasanya tidur barang sepercik. Tapi konsol games ku tak beri izin. Leon masih sibuk mengikuti Ada keluar parkiran RPD. Hehehe.

Ah harus mencari green herb. Lumayan ada red herb. Hehehe. 

Hehe. 

He. 

02.33

Aku ngantuk Tuhanku. Sungguh. Tapi aku tak mau tidur. Tak mau mengulangi mimpi sial itu. Mimpi buruk selama bertahun yang bersarang di memoriku. Sulit sekali lelap bermimpi indah. Ketemu Aldebaran gapapa deh. Sungguh. Sumpah. Ah. Kesal. 

02.35

Pesen gopud apa ya? Sedikit lapar. Tapi kasian juga si. Lagian jam segini mana ada yang buka. Ah. Kumohon. Biarkan aku tidur. Pretty please? 

Jumat, 19 Maret 2021

Semu

Suara itu bising kudengar. Berputar. Terngiang. Tanpa bisa kuredam. Teriakan, tangisan, amarah, tawa, panik, takut. Semua satu. Mataku terpejam, bulir panas terurai basah dipipi. Aku berharap nyaring supaya sunyi, tapi nyatanya diam itu kutukan. 

Hatiku bengkak, lukanya masih basah dan biru bekas lalu. Belumlah sembuh. Jika hidupku adalah sebuah permainan Zombie, mungkin darah berserakan beserta daging dan kulitnya. Tapi nyatanya, luka ini tak pernah menguarkan setetespun darah. Meski, sakit yang terasa seperti kehilangan udara yang selama ini mengalir. 

Bicara selalu lebih mudah daripada bertindak. 

Harusnya aku berkaca. Bagaimana bisa aku memberikan saran pada sejawat sedang aku sendiri acap kali kebingungan dengan peranku? Harusnya aku malu saat mengalirkan ribuan kata bijak, saat aku jatuh pun aku tak ingat satupun kalimat itu. Persetan. 

Mataku rasanya sudah lelah. Mendung, selalu menjadi hujan dalam hidupku. Mereka bilang aku terlalu perasa. Pernahkah mereka terka rasa apa yang sedang kukecap? 

Bicara selalu lebih mudah daripada bertindak. 

Sesal tiada lalu bisa ku putar kembali. Rasanya lelah pun sudah tidak bisa kukeluhkan. Kukepal tanganku, mencoba menenangkan hatiku yang meronta, mencaci, menjambak. Ha. Setidaknya puas sudah kulampiaskan. Tapi... Kenapa rasanya masih hampa?